Java War [Diponegoro 1825-0000], Belajar dari Perjuangan Pangeran Diponegoro

Bookmark and Share


Mungkin tak banyak yang tahu hari ini 226 tahun yang lalu, di Yogyakarta lahir seorang putera raja yang dikemudian hari dikenal sebagai seorang yang pemberani, saleh & pembela kaum papa. Beliau adalah Pangeran Diponegoro putera Hamengkubuwana III yang sedari kecil diasuh oleh neneknya, dididik untuk hidup bersahaja, jujur, berjiwa pemimpin, rendah hati dan dekat dengan rakyat. Lahir dengan nama Raden Mas Ontowiryo, beliau menolak diangkat menjadi raja mengingat dirinya adalah anak dari seorang selir bukan permaisuri raja.



Mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro, Sardono W. Kusumo kembali mementaskan pergolakan dan perjuangan sang Pangeran dalam perang Jawa (1825-1830). Dipertunjukan bertajuk Java War 1825-0000 ini; Sardono berkolaborasi dengan Iwan Fals, Happy Salmah dan sejumlah penari profesional. Semalam (10/11) di pementasan khusus untuk undangan dan media ikut tampil sejarawan Peter Carey, penulis The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Order in Java 1785-1855 (2008). Peter Carey memaparkan penggambaran diri Raden Saleh dalam lukisan “Penangkapan Diponegoro” yang direproduksi dari ukuran aslinya 112×178cm dan diperbesar menjadi 7×14m untuk latar belakang panggung. Dalam lukisan tersebut Raden Saleh menggambarkan dirinya dalam 3 (tiga) potret yang berbeda.




13209974702573794

Peter Carey memaparkan makna lukisan Raden Saleh





Dibuka dengan tata cahaya redup memantul ke layar yang membuat gambar-gambar manusia di jaring lukisan nampak hidup. Seorang penari muncul berkoteka meliuk-liuk melepaskan diri dari jeratan jaring diiringi Requim karya Mozart yang menggigit. Panggung silih berganti menampilkan kehidupan Pangeran Diponegoro muda sebagai petani di desa Tegalrejo, penggambaran sang Pangeran sebagai seorang yang tidak gila tampuk kekuasaan.


1320997650862409753

Happy Salma memerankan Diva Mabuk dalam Opera Diponegoro (dok. koleksi pribadi)



13209978351105328509

Pangeran Diponegoro ditangkap saat bersilahturahmi ke de Kock di Magelang (dok. koleksi pribadi)






Iwan Fals mulai muncul di pojok kiri panggung mendendangkan riwayat hidup dan perjuangan Pangeran Diponegoro diambil dari Babad Diponegoro yang ditulis Diponegoro selama dalam pengasingan di Manado dan Makassar. Lakon demi lakon berganti : perjuangan warga mempertahankan tanahnya dari patok-patok Belanda untuk pembangunan jalan tol, penggusuran tanah hingga pemakaman yang membuat rakyat marah. Penggambaran gunung Merapi meletus ditampilkan lewat dua lukisan Raden Saleh yang menjadi latar panggung. Pada babak ini, Pangeran Diponegoro menghayati letusan Merapi dengan mengajak istrinya Ratna Ningsih untuk memadu kasih. Pertemuan Diponegoro dengan Nyi Roro Kidul yang menawarkan bala bantuan dalam berperang dengan menurunkan tentara gaibnya namun Diponegoro menolak dengan berkata bahwa agama mengajarkan hanya Allah semata yang memberi pertolongan. Di markas tentara Belanda berlangsung pesta ala Rijsttafel dengan salah satu menu yang terhidang di meja adalah “manusia panggang.” Pesta dihadiri oleh para petinggi Belanda berujung kekacauan karena semua yang hadir ikut mabok termasuk Jendral de Kock dan Diva Mabuk yang diperankan dengan baik oleh Happy Salma. 28 Maret 1830 bertepatan dengan lebaran hari kedua Pangeran Diponegoro ditangkap saat datang bersilaturahmi ke Jendral De Kock di Karasidenan Magelang tanpa melakukan perlawanan. Panggung berganti lakon perjalanan Pangeran Diponegoro ke tempat pengasingan melalui ganasnya laut melewati berbagai kota pesisir. Pelayaran dari Semarang ke Batavia lalu dipindahkan ke Manado lalu terakhir ditawan di Benteng Rotterdam, Makassar dimana beliau meninggal di usia tua dan dimakamkan di Makassar.


1320997959487214745

Closing, Pangeran Diponegoro mendarat di Makassar (dok. koleksi pribadi)



13209977241396946620

Ki-ka : Iwan Fals, Renitasari (Djarum Foundation), Happy Salma & Sardono W. Kusumo sehabis pementasan (dok. koleksi pribadi)


Perang Jawa memang hanya berlangsung 5 (lima) tahun 1825-1830, pemaknaan tahun 1825-0000 dalam lakon Java War adalah perjuangan yang tak pernah berakhir hingga saat ini.Suatu perhelatan yang layak untuk ditonton oleh semua kalangan. Java War akan dipentaskan selama 3 (tiga) malam berturut-turut di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jumat - Minggu (11-13 Nov 2011) pk 20.00 [olive].

Olive Bendon